RSS

Pelu Tahu


Hubungan Antara Pikiran dan Tubuh

Sejak dahulu sudah di ketahui bahwa ada suatu hubungan yang sangat abstrak antara tubuh dan pikiran , namun hal tersebut tidak habis habisnya diteliti dikarenakan selalu timbul permasalahan yang sangat menarik, misalnya saja bahwa perasaan cemas, kepusasaan ,atau cinta dan optimisme itu bukan masalah perasaaan saja ; namun mereka itu merupakan suatu keadaan yang mampu mempengaruhi berbagai macam organ dan metabolisme di dalam tubuh kita misalnya saja jantung dan pembuluh darah , atau lambung . Dan otak ; adalah pintu gerbang yang menghubungkan keduanya .
Maksudnya adalah ; aksi yang disebabkan oleh perasaan perasaan diatas akan diolah dengan sangat rumit dan cermat oleh otak , dan akan menyebabkan reaksi tertentu bila hal tersebut terus menerus berlangsung . Contohnya adalah bagaimana seseorang yang sedang mengalami stress, dapat menderita penyakit kulit eksim ( neurodermatitis ) akibat stressnya tersebut, atau seseorang yang depresi dan terus menerus mengeluh bahwa setiap jengkal dari tubuhnya terasa nyeri padahal dari pemeriksaan yang dilakukan ternyata baik baik saja ( hipokondriasis ) . Namun tidak itu saja, Walter Cannon dari bagian Fisiologi Harvard University , sejak beberapa tahun yang lampau sudah mensinyalir bahwa stress yang tidak tekontrol dapat membunuh , karena stress, keputusasaan, perasaan terancam , dan perasaan perasaan negatif lainnya tersebut akan meningkatkan tekanan darah, denyut jantung, ketegangan otot, dan frekuensi pernafasan , dan disertai pula ketidakseimbangan hormon yang dikeluarkan oleh tubuh serta diproduksinya faktor faktor inflamasi yang turut memperberat kerusakan yang timbul .
Dalam dunia kedokteran dikenal istilah plasebo efek ; yaitu efek yang yang timbul oleh karena pasien meminum sesuatu yang dikiranya sebagai obat . Misalnya begini , apabila ada teman kita yang sakit kepala , kemudian kita berikan sebutir pil , dan kita katakan ke dia bahwa ini adalah obat sakit kepala yang sangat baik , saya cocok sekali dengan obat ini ( pada hal obat itu adalah vitamin B1 biasa ) , dan teman kita itu meminum obat tersebut , selang satu jam kemudian ia mengatakan bahwa sakit kepalanya sudah membaik ..itu yang kita sebut sebagai plasebo efek ; dan angka kejadian plasebo efek masih sangat tinggi didalam dunia kedokteran khususnya di Indonesia ; dan yang ingin kami tunjukan adalah bahwa plasebo efek adalah contoh yang paling nyata dalam dunia kedokteran bahwa terdapat hubungan yang sangat intens antara pikiran dan tubuh anda .
Sudah banyak penelitian yang menghabiskan biaya teramat besar dan memakan waktu yang cukup lama , namun bagaimana caranya menyeimbangkan/mengharmoniskan hubungan antara pikiran dan tubuh masih terus menjadi tanda tanya ; oleh sebab itu maka menjamurlah kursus kursus yang menawarkan pelatihan yoga, meditasi, hipnotik ataupun hal hal sejenis agar kita dapat menelaah lebih dalam lagi mengenai cara yang cocok untuk menyeimbangkan keadaan pikiran dan tubuh ( pss..t.., itu iklan mereka lho ) .
Namun bisakah meditasi menyembuhkan kanker .tentu tidak , tapi yang pasti meditasi dapat meminimalkan rasa takut atau cemas yang datang pada orang orang yang sedang menderita kanker hingga penderita tersebut dapat melanjukan hidupnya dengan lebih optimal , atau contoh kecil lagi misalnya saja bila ada seorang anak kecil yang terjatuh dan lututnya luka , kemudian ia menangis , lalu datanglah ibunya , mengusap kepalanya , dan tangis si anak itu mereda sambil ibunya mengoleskan obat merah atau cairan antiseptik ke lukanya.., bisakah usapan si ibu mengobati luka si anak ? , tentu tidak, obat merah atau cairan antiseptik yang melakukan hal itu , tapi usapan si ibu ke kepala anaknya memberikan rasa tenang, nyaman dan tentram terhadap si anak , hingga itu mengurangi rasa sakit yang dideritanya akibat terjatuh tadi .
Masih mengenai rasa nyeri yang kita derita , telah diketahui bahwa rasa nyeri ( baik fisik maupun psikis ) akan meningkatkan status emosi seseorang , dan emosi yang tidak stabil bila berlangsung lama , juga dapat menimbulkan kembali nyeri psikis yang ujung ujungnya akan menciptakan lingkaran setan yang berkisar antara nyeri dan kelabilan emosi yang timbul. Titik pangkal dari kedua hal tersebut sebenarnya adalah sistem saraf kita ; keduanya akan mengaktifkan pelumas aliran saraf ( neurotransmitter ) yang bekerja pada bagian yang sama di otak . Bila proses yang terjadi hanya sebentar ,maka kita akan melupakan nyeri yang timbul dan emosi tidak terpengaruh ; namun apabila sirkuit tersebut ada dan terus bekerja ,maka hasilnya seperti yang sudah disebutkan diatas ; terjadi lingkaran setan . Satu lagi masih tentang nyeri , anda semua pasti tahu mengenai migren , bahwa orang yang sering terserang migren dalam 2 tahun berturut turut akan 5 kali lebih mudah terserang depresi .
Sehingga melihat hal diatas tidaklah heran , bahwa mulai banyak digunakan obat obat penenang untuk mengurangi rasa nyeri yang timbul , beberapa pihak mengemukakan kehandalam obat obat penenang tersebut dalam menjaga permeabilitas saraf yang terkait namunlebih banyak daripada itu ahli ahli mengatakan bahwa guna dari obat obat penenang tersebut adalah untuk menatalaksanakan nyeri yang timbul .so manage your pain is very healthy way to increase your life quality.
Masih dari artikel di majalah yang sama , dari Jepang kita ada suatu ungkapan yaitu “karosi” yang artinya adalah kematian yang disebabkan oleh kerja yang berlebihan . Seorang ahli dari Finlandia ( dr. Jussi Vahtera ) dan psikolog Mika Kivimaki mengadakan penyelidikan mengenai diatas , yaitu mungkin nggak sih ,orang bisa meninggal di karenakan bekerja yang berlebihan ? .
Mereka mengadakan penyelidikan selama 7 tahun di Finlandia sendiri , yang pada waktu itu sedang terserang resesi dan kemerosotan ekonomi sehingga memaksa warganya untuk bekerja lebih keras guna memenuhi kebutuhan ekonomi mereka . Hasilnya dari penelitian tersebut dimuat pada jurnal terkemuka dan sangat dipandang yaitu british Medical Jornal bulan Februari kemarin , dimana Kimivaki mengatakan bahwa angka kematian pada orang orang yang memiliki beban kerja yang berlebih , atau bekerja keras hingga melebihi batas kemampuannya adalah 2x lebih besar dibanding mereka yang meninggal akibat penyakit jantung dan stroke ( di Finlandia ) . Well , apa ada yang mau melakukan penelitian tersebut di Indonesia, karena masyarakat kita yang sangat kuat dan tangguh sudah sangat terbiasa dengan yang namanya P7 ( Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas Pasan ).
Read More - Pelu Tahu

JASMERAH


Bung Karno Putra Sang Fajar



“Aku adalah putra seorang ibu Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Idaju, berasal dari kasta tinggi. Raja terakhir Singaraja adalah paman ibuku. Bapakku dari Jawa. Nama lengkapnya adalah Raden Sukemi Sosrodihardjo. Raden adalah gelar bangsawan yang berarti, Tuan. Bapak adalah keturunan Sultan Kediri...



Apakah itu kebetulan atau suatu pertanda bahwa aku dilahirkan dalam kelas yang memerintah, akan tetapi apa pun kelahiranku atau suratan takdir, pengabdian bagi kemerdekaan rakyatku bukan suatu keputusan tiba-tiba. Akulah ahli-warisnya.” Ir. Soekarno menuturkan kepada penulis otobiografinya, Cindy Adam.


Putra sang fajar yang lahir di Blitar, 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai, diberi nama kecil, Koesno. Ir. Soekarno, 44 tahun kemudian, menguak fajar kemerdekaan Indonesia setelah lebih dari tiga setengah abad ditindas oleh penjajah-penjajah asing.


Soekarno hidup jauh dari orang tuanya di Blitar sejak duduk di bangku sekolah rakyat, indekos di Surabaya sampai tamat HBS (Hoogere Burger School). Ia tinggal di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Jiwa nasionalismenya membara lantaran sering menguping diskusi-diskusi politik di rumah induk semangnya yang kemudian menjadi ayah mertuanya dengan menikahi Siti Oetari (1921).


Soekarno pindah ke Bandung, melanjutkan pendidikan tinggi di THS (Technische Hooge-School), Sekolah Teknik Tinggi yang kemudian hari menjadi ITB, meraih gelar insinyur, 25 Mei 1926. Semasa kuliah di Bandung, Soekarno, menemukan jodoh yang lain, menikah dengan Inggit Ganarsih (1923).


Soekarno muda, lebih akrab dipanggil Bung Karno mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia), 4 Juni 1927. Tujuannya, mendirikan negara Indonesia Merdeka. Akibatnya, Bung Karno ditangkap, diadili dan dijatuhi hukuman penjara oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia dijeboloskan ke penjara Sukamiskin, Bandung, 29 Desember 1949.



Di dalam pidato pembelaannya yang berjudul, Indonesia Menggugat, Bung Karno berapi-api menelanjangi kebobrokan penjajah Belanda.


Bebas tahun 1931, Bung Karno kemudian memimpin Partindo. Tahun 1933, Belanda menangkapnya kembali, dibuang ke Ende, Flores. Dari Ende, dibuang ke Bengkulu selama empat tahun. Di sanalah ia menikahi Fatwamati (1943) yang memberinya lima orang anak; Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rahmawati, Sukmawati dan Guruh Soekarnoputri.


Soekarno adalah seorang cendekiawan yang meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama yang mungkin hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah diterbitkan dengan judul Dibawah Bendera Revolusi, dua jilid. Dari buku setebal kira-kira 630 halaman tersebut, tulisan pertamanya (1926), berjudul, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxism, bagian paling menarik untuk memahami gelora muda Bung Karno.


Tahun 1942, tentara pendudukan Belanda di Indonesia menyerah pada Jepang. Penindasan yang dilakukan tentara pendudukan selama tiga tahun jauh lebih kejam. Di balik itu, Jepang sendiri sudah mengimingi kemerdekaan bagi
Indonesia.Penyerahan diri Jepang setelah dua kota utamanya, Nagasaki dan Hiroshima, dibom atom oleh tentara Sekutu, tanggal 6 Agustus 1945, membuka cakrawala baru bagi para pejuang Indonesia. Mereka, tidak perlu menunggu, tetapi merebut kemerdekaan dari Jepang.


Setelah persiapan yang cukup panjang, dipimpin oleh Ir. Soekarno dan Drs Muhammad Hatta, mereka memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No. 52 (sekarang Jln. Proklamasi), Jakarta
Read More - JASMERAH

Aku rindu saat-saat itu Dave


 Aku Rindu Saat-Saat itu Dave


Alhamdulillah akhirnya sampai juga
                        “ Assalamualaikum, Dave”
                        “ Tak apa Dave, tetaplah berbaring di tempatmu,jangan segan dengan kedatanganku ini. Biar aku saja yang duduk di sini. Aku memang sengaja datang kemari karena aku sangat merindukanmu Dave”
                        “ Apa, kau juga merindukanku?” terima kasih Dave
                        Kau tahu Dave, disaat seperti ini aku jadi ingat persahabatan kita. Lucu sekali ya, kita bagaikan tak terpisahkan, dimana ada kamu di situ selalu ada aku.
                        “ Kenapa wajahmu jadi memerah? Kamu malu ya?”
                        “ Kamu masih ingat tidak Dave saat kamu memintaku untuk mengajarimu membuat puisi?”


*******

                        Siang itu . . .
                        “ Assalamualaikum .“ ucapmu ramah
                        “ Waalaikumsalam , masuk Dave. Tumben sore-sore begini kamu datang kemari, ada apa? “
                        “ Aku mau minta tolong. Kamu kan jago bikin puisi, tolong ajari aku ya? Aku ingin membuat puisi untuk ibu sebagai kado di hari ulang tahunnya nanti “
                        “ Ah kamu ini bisa saja. “ jawabku malu-malu
                        “ Bantuin aku ya? “ pintamu memelas
                        “ Iya deh, tapi jangan sekarang. Aku lagi banyak PR. Bagaimana kalau besok saja? “
                        Ya, semenjak sore itu kamu jadi semakin rajin berlatih membuat puisi. Bahkan hampir setiap hari kamu meluangkan waktumu untuk membuat puisi. Aku sangat senang melihatmu bersemangat seperti itu. Kau juga selalu menunjukkan hasil puisimu padaku.  Dan suatu hari tanpa sepengetahuanmu, kuikutkan salah satu puisi terbaikmu dalam lomba memperingati hari jadi kota Surabaya. Aku tidak menyangka kalau kau-lah yang menjadi pemenangnya. Awalnya kamu bingung, tapi setelah kujelaskan semuanya, kau juga turut bahagia mendengar berita itu. Kau pantas mendapatkannya Dave.
                        Keesokan harinya kau mendapat undangan dari wali kota Surabaya untuk menghadiri peringatan hari jadi kota Surabaya. Kau memutuskan untuk menghadiri acara itu dengan mengajak orang tuamu dan aku. Akhirnya hari itu datang juga. Semua orang yang datang dalam acara itu melihatmu dengan bangga, Dave. Bahkan kau mendapat kehormatan untuk duduk di barisan paling depan bersebelahan dengan pak wali kota. Andai kau tahu betapa bangganya orang tuamu saat itu.
                        Acara demi acara terus berlalu, hingga tiba saatnya pembawa acara mempersilahkanmu untuk naik ke atas turut maju mendekat ke panggung agar bisa mengambil fotomu. pamggung untuk memberi sambutan singkat atas kemenanganmu. Saat kau maju, aku juga
                        “ Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Selamat siang hadirin yang berbahagia. Saya di sini ingin menyampaikan sedikit kata. Terima kasih untuk semua yang telah mendukung saya, terutama kepada orang tua saya dan juga teman saya Bella yang telah banyak membantu saya. Saya senang bisa berdiri di sini. Mungkin seumur hidup saya, baru kali ini saya bisa sedikit membanggakan orang tua saya. Saya memang bukan siapa-siapa, tapi saya selalu berusaha agar saya bisa berarti untuk orang-orang yang saya cintai.....”
                        Semua orang tersenyum dan bertepuk tangan untukmu, tapi tidak denganku. Dari tadi aku memperhatikanmu dengan was-was. Kamu tidak seperti biasanya Dave, wajahmu pucat, matamu agak sayup, dan sesekali kakimu bergetar. Suara tepuk tangan semakin membahana. Di tengah keriuhan itu, kulihat kakimu semakin bergetar dan akhirnya, brukkk...., kau jatuh tak sadarkan diri. Semua orang berteriak kaget, lalu mereka berhamburan untuk menolongmu. Kau tahu Dave, saat itu hatiku terasa tak karuan. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa sangat takut kehilanganmu, sebuah perasan yang harusnya tak pernah terbesit dalam benakku. Bodoh sekali ya kalau aku merasa takut kehilanganmu, aku tahu itu tak akan terjadi karena kamu adalah anak yang kuat. Kamu tak akan menyerah dalam  keadaan apapun. Tak lama mobil ambulan datang untuk membawamu ke rumah sakit.
                        Setelah beberapa hari aku masih trauma atas kejadian itu sehingga aku tidak langsung datang menjengukmu. Tapi walaupun begitu aku tetap berdoa untuk kesembuhanmu.
Tapi hari itu aku merasa sangat rindu padamu,Dave. Akhirnya aku meminta ayahku untuk mengantarkanku ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, tepat di depan ruang rawatmu aku melihat semua keluargamu sedang berkumpul.  Tapi wajah mereka senduh. Kulihat ibumu sedang menangis. Ada apa ini, mengapa semua orang bersedih. Aku mulai khawatir kalau ketakutanku selama ini benar-benar terjadi. Jujur aku takut sekali kehilanganmu,Dave.
                        “ Permisi tante, kenapa tante menangis? Dimana Dave tante? Boleh saya bertemu? “ tanyaku gugup.
                        Berbagai pertanyaan berkecamuk di benakku. Tapi ibumu hanya diam, membuatku semakin penasaran.
                        “ Tante....”
                        “ Bella, Dave...Dave me.. meninggal..” jawab ibumu dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.
                        “ Innalillahi wainnalillahirojjiun..” benarkah apa yang barusan kudengar. Ketakutanku benar-benar terjadi. Oh Tuhan badanku terasa begitu lemas. Aku dalam keadaan antara percaya dan tidak percaya. Benarkah aku harus kehilangan Dave. Haruskah aku berpisah dengan sahabat, saudara,bahkan guru yang telah bertahun-tahun mengajarkan aku banyak hal tentang hidup ini.

                        “ Sebenarnya Dave sakit apa, Tante?”
                        “ Sejak kecil Dave sudah sakit leukemia. Tapi dia anak yang tegar, dia tidak mau orang lain tahu tentang penyakitnya. Mungkin dia takut akan menyusahkan orang lain. Termasuk juga kamu, Bella.”
                        Teman macam apa aku ini. Harusnya aku tahu dari dulu kalau kamu sakit, Dave. Maaf  Dave kalau selama ini aku belum bisa jadi teman yang baik untukmu. 5 tahun kita bersahabat, harusnya itu sudah cukup bagiku untuk lebih mengenalmu. Tapi aku gagal Dave. Semoga kau tak kecewa punya teman sepertiku.

   *******




                        “ Kenapa kamu menangis Dave?”
                        “ Sudah hapus air matamu. Aku datang ke sini untuk menghiburmu, bukan untuk membuatmu bersedih.”
                        “ Maaf kalau aku mengingatkanmu dengan kejadian itu. Kejadian yang membuat kau berada di sini. Tapi tenanglah aku akan membuatmu tidak merasa kesepian di sini. Aku akan selalu menyempatkan diri untuk mengunjungimu, Dave.”
                        Awalnya aku masih berat untuk mengikhlaskan kamu pergi setelah sekian lamanya kita bersama. Hari - hariku akan terasa berbeda tanpamu. Kau harus tahu Dave, aku menyayangimu tapi mungkin Tuhan lebih sayang kamu, sehingga Tuhan ingin cepat – cepat memanggilmu agar kau bisa merasakan kebahagian yang kekal di taman surga bukan di dunia yang carut – marut ini. Jadi kamu tak perlu merasa sedih ataupun menyesal, Dave. Tuhan sudah berikan yang terbaik untukmu. Bagaimana pun keadaanmu sekarang ataupun nanti, aku akan selalu menjadi temanmu,jangan takut karena aku tak akan melupakanmu walau hanya sesaat.
                        “ Sudah dulu ya, rasanya sudah lama sekali aku di sini.”
                        “ Jangan sedih, aku janji aku akan sering – sering mengunjungimu di sini.”
                        Matahari perlahan mulai kembali ke peraduannya, cahayanya  tampak gelap kemerahan khas suasana senja, suara adzan sayup – sayup berkumandang pertanda sang malam akan datang. Dengan langkah gontai, kutinggalkan pemakaman islam tempat Dave bersemayam.
Read More - Aku rindu saat-saat itu Dave

Test posting 2


Black Storm
by CrimsonRain


I know, it hurts
the storm has come and gone
leaving you and I
broken in ruins but this cant be where i die


I needed someone that protected me from my self
and you never could
and so i move on from this place
with a heavy heart all alone


The memories held me down for so long
because i couldn't just let go of you
and it still hurts
but i know now what i must do to survive this place


There is nothing left
and i desperately rebuild my life
from the broken pieces
you left of my heart on the floor


Time is no friend as he burns the wound shut
and the tears they flow like blood from a cut
But i need to be strong with one foot after another
i just have to move on


Because you’ve left me to rot all alone.
Read More - Test posting 2

Test posting 1


Lampung Post
Minggu, 17 Juni 2007

Bakauheni yang Merenda Rindu Penyesalan
Cerpen: Badarudin

Pelabuhan Bakauheni. Sepenggal kehidupan yang tidak pernah berhenti mendeburkan ombaknya menciptakan buih-buih bertebaran. Mungkin hingga kiamat terjadi.

Beberapa menit kapal muncul dan menghilang, kapal-kapal yang bolak-balik dari Bakauheni ke Merak atau sebaliknya. Mobil-mobil angkutan mengambil jalurnya sendiri-sendiri diatur oleh petugas, jalur sesuai dengan kuantitas dan ukuran yang telah tertulis dalam peraturan.

Jika senyap telah menyapa, ketika Tuhan telah menimbun matahari dalam dekapan-Nya di kaki langit barat seolah tenggelam dalam luasnya laut, kehidupan ini terus berjalan tak kenal henti.

Seperti Hendra yang sedari tadi menoleh kian kemari, mengamati kehidupan Bakauheni, mencari sesosok bayangan wanita yang dia tunggu-tunggu. Ayahnya yang memegang kemudi hanya berkonsentrasi mencari celah agar mobilnya mendapatkan giliran segera untuk memasuki kapal yang telah melemparkan talinya, tapi antrean yang terlalu panjang di tengah malam akan membuatnya harus bersabar.

Hendra turun karena dirasa mobil akan lama menunggu giliran masuk, dilihatnya wanita itu telah tersenyum sambil menjinjing termos dan beberapa gelas yang disusun menumpuk. Setitik kerinduan akan terobati dan dahaga tenggorokan akan terobati dengan meminum kopi sambil menghilangkan kantuk yang semakin menjalar.

"Kita menikah saja yuk Kang!"

Permintaan yang seolah menyedak Hendra yang sedang menghirup kopi yang mulai menghangat, matanya menatap sejenak mata wanita di depannya itu, mata lentik yang meluruhkan sifat buruknya, mata yang sekali ini membuatnya jatuh cinta.

"Aku sudah tidak tahan lagi hidup seperti ini, aku berdagang hanya untuk menunggu Akang datang," tatapannya selalu menimbulkan debur kegelisahan bak ombak yang mendebur, menggulung apapun yang berada di hadapannya.

Mata itu masih menatap Hendra lekat, mata lentik yang telah mampu menaklukan sifat buruk Hendra kini memburunya untuk melepaskan segala ikatan yang menghalangi mereka selama ini.

"Tapi aku masih mengumpulkan uang Nah. Setelah kurasa cukup untuk dapat hidup layak bersamamu aku pasti akan membahagiakanmu, kamu tahu aku tidak ingin melihatmu menderita lagi, tunggulah barang sejenak," pinta Hendra lirih. Matanya mencari sesuatu di mata wanita penjual kopi itu, akankah kekecewaan atau kesabaran yang akan terlihat. Wanita yang telah merubah sifat buruknya.

***

Bakauheni yang tak pernah berhenti dari aktivitasnya, kapal yang bolak-balik dari Merak ke Bakauheni atau sebaliknya, mungkin akan berhenti jika kiamat terjadi. Hendra mengemudi mobilnya sedangkan ayahnya dari rumah tadi belum menggantikannya, didekatkannya mobil berisi minyak tanah yang akan diantar bersama ayahnya ke perusahaan pengolah minyak di Pulo Gadung atau ke Kali Deres.

Hendra mengedarkan pandangannya mencoba mengobati kantuk yang mulai menghinggapi jiwanya yang telah lelah. Seorang lelaki penjual kacang rebus melewatinya sambil memamerkan dagangannya, mempromosikan, tapi tak ada ketertarikan dari wajah kantuk Hendra. Penjual kerupuk masih menyisa berkeliling dari satu mobil ke mobil lain, penjual kopi melintasinya beberapa kali.

Seorang wanita menjinjing termos dan beberapa gelas yang disusun menumpuk melewatinya sambil mendendangkan suara yang merdu.

"Kopi Mbak," Hendra meminta Ayahnya untuk menggantikan posisinya.

Wanita itu tersenyum sambil duduk dan mulai meracik kopi yang dipesan Hendra. Satu menit kemudian kopi manis itu telah siap. Wanita itu menyodorkan gelasnya kepada Hendra namun mata lelaki itu menatapnya, pandangan itu bertemu sejenak dan menciptakan daya tarik tersendiri hingga membuat mereka tersenyum kecil untuk menutupinya.

Hendra adalah lelaki yang sering keluar membawa mobil bersama ayahnya, perjakanya telah hilang seiring kelelahan yang membuatnya harus melampiaskan kecapekannya dengan membayar para kupu-kupu malam yang mencari mangsa para sopir-sopir yang kesepian di kala malam menyapa.

Rayuan mautnya telah membuat banyak wanita bertekuk lutut dalam pelukannya apalagi uang hasil kerjanya memang hanya dihamburkan untuk memenuhi sifat buruknya tersebut. Hasil kerjanya pun tak menyisa untuk kebutuhan sehari-harinya, untung sang Ayah masih selalu menolongnya, walau bagaimanapun kelakuan anak orangtua akan selalu menolongnya.

Kali ini Hendra benar-benar tak bisa berkata banyak pada wanita penjual kopi itu, merayunya pun membuat lidahnya telah beku dan kelu, hidung mungil wanita itu telah membuat dadanya berdebar, tak pernah dilaluinya getaran seperti ini seumur hidupnya.

"Ayo diminum Kang, nanti keburu dingin," wanita itu melaburkan angan yang dibangunnya, mencerna dan merekayasa imajinasi.

"Iya," nikmatnya kopi ditambah matanya yang sebentar-sebentar melirik pandang, wanita itu benar-benar membuatnya tak berkutik.

"Siapa nama Mbak?"

"Supinah, panggil saja Inah," senyum yang santun itu sekali lagi tersungging.

Merambat waktu, Hendra mempunyai semangat baru dalam bekerja, terutama untuk bertemu dengan Inah. Hubungan semula antara penjual dan pembeli kini telah menjadi hubungan janji untuk menikah, Hendra pun tak ingin menodai cinta pertama yang diakuinya, kebiasaan buruknya telah hilang tergantikan harapan pada Inah untuk mengumpulkan dana hingga dapat dia gunakan untuk membahagiakan wanita yang telah memberikan warna baru dalam hidupnya.

***

"Nikahilah dia, kamu menunggu apa lagi?" pak Sobri menyentakkan lamunan anaknya.

"Aku takut tidak bisa membahagiakannya Pak."

"Kebahagiaan itu bukan pada materi anakku, tapi pada kepercayaan. Nikahilah dia sebelum terlambat."

Hendra mencerna perkataan ayahnya sejenak, tanpa pikir panjang lagi dia meminta izin ayahnya untuk menemui Inah yang telah berkeliling kembali menjajakan kopinya.

"Nah, aku akan melamarmu secepatnya. Walau aku belum mempunyai banyak tabungan, tapi akan bekerja keras untuk kita," senyum itu meyakinkan janji Hendra.

Ada senyum kecil di wajah Inah, kekecewaan yang barusan diucapkan Hendra terobati sudah. Tak ada kata yang terucap kecuali anggukan mesra. Mereka berpisah dengan senyum yang meyakinkan hati mereka masing-masing.

***

Malam ini Hendra berniat melamar Inah walau di tengah pekerjaannya, walau di tengah Inah yang sedang menjual kopi, demi cinta yang telah merubah pribadinya dan memberi warna pada kehidupannya.

"Nah aku ingin bicara," Hendra menatap mata lentik itu sambil menyeruput kopinya, di samping Inah ada seorang anak kecil berusia 4 tahunan.

"Apa Kang."

"Malam ini aku ingin melamarmu, kebetulan kami baru pulang dari muatan dan ayah bersedia menemaniku untuk mempersuntingmu," ada semburat harapan yang memancar dari celah bibir Hendra.

"Kang, aku ingin jujur padamu. Aku tidak mempunyai keluarga lagi, kedua orangtuaku telah meninggal. Ini adalah Anakku, aku seorang janda."

Benar-benar seperti petir menyambar lenggangnya masa, tercipta dan terlihat patah-patah, seperti mematahkan harapan. Tapi tak sepatah katapun yang terucap dari bibir Hendra.

"Setelah suamiku meninggal, aku diusir dari rumah keluarganya. Aku berdagang disini karena ingin menyambung hidup dan memberi makan pada anakku. Tapi aku juga ingin jujur bahwa aku mencintai Akang. Aku harap Akang menerima aku apa adanya."

Walau mendengarkan isak lirih itu, Hendra meninggalkan begitu saja Inah yang memeluk anaknya mencoba menguatkan takdir yang menimpanya. Hendra benar-benar tertipu selama ini, keindahan warna-warni baru dalam hidupnya telah memerangkap harapannya. Hatinya benar-benar murka, namun tak kuasa memarahi wanita bermata lentik itu hingga yang dapat dilakukannya hanya berlalu dan pulang dengan segudang tumpukan amarah.

Hari-hari berlalu, Hendra merasakan luka yang teramat perih melebihi luka atau sakit dikala menimpa jasad fisiknya, luka karena cinta. Sudah begitu banyak wanita yang dia kecewakan hanya untuk memenuhi hasrat iblisnya, kini saat hatinya terluka oleh seorang wanita barulah dia sadar perbuatannya selama ini memang mendapatkan ganjaran yang setimpal.

Hidupnya kini mulai berubah, hari-harinya selalu digunakan untuk memperbaiki diri, menghilangkan sifat-sifat buruknya selama ini. Satu hal yang dia lupakan, wanita itulah yang menjadi sarana dari Tuhan untuk mengetuk hatinya, secara jujur hatinya masih menginginkan wanita tegar itu mendampingi hidupnya walau sakit hati dan kesombongan masih menghinggapi jiwanya.

"Carilah dia, bukankah dirimu tidaklah suci dibandingkan siapapun. Ingatlah ketika engkau berpaling dari satu pelukan wanita ke pelukan wanita lain. Tidakkah engkau menemukan ketegaran dalam wanita itu," pak Sobri memberi wejangan kepada anaknya sambil mengemudikan mobil. Memang selama ini Hendra banyak berubah namun lamunannya kini semakin menjadi.

"Apakah dia mau memaafkanku?" pak Sobri hanya menganggukkan kepalanya, meyakinkan.

Hendra mencari setiap penjual kopi di Bakauheni, senyumnya merekah menggantikan mendung duka yang setiap hari menyelimutinya semenjak dia memutuskan hubungan dengan Supinah. Wanita bermata lentik itu, wanita berhidung mungil itu, dimanakah engkau. Kakinya terus mencari hingga ayahnya memperingatkannya bahwa mobil hampir masuk dan berangkat menuju Merak.

Senyum cerahnya mulai sirna, keputusasaan mulai memancar, didatanginya seorang penjual kopi di pinggir tangga menuju kapal tempat naik para penumpang, "Maaf Mbak, apakah mbak tahu keberadaan Supinah yang dulu sering menjual kopi disini?"

"Maksud Mas, mbak Inah yang mempunyai anak kecil itu?"

Anggukan kepala Hendra membuat wanita itu melanjutkan kata-katanya, "Mbak Inah udah berhenti dagang, dia bilang mau pergi karena harapannya disini telah hilang. Dia sendiri bingung mau pindah kemana hanya dia bilang ingin anaknya dididik bukan disini."

Hendra berpamitan karena kapal telah meniup peluitnya, terompet menggema. Perasaan yang campur aduk hingga membuatnya semakin tersiksa. Penyesalan memang datang terlambat.

***

Pelabuhan Bakauheni. Sepenggal kehidupan yang tidak pernah berhenti, nonstop, terus mengalir bagaikan aliran laut yang selalu mendeburkan ombaknya menciptakan buih-buih bertebaran. Kehidupan yang tidak pernah berhenti, mungkin akan berhenti jika kiamat terjadi. Tambang telah dilemparkan dari kapal untuk dimasukkan ke dalam cantolannya. Tambang itu bernafas turun naik, digoyangkan kapal, dibelai ombak.

Hendra masih terpaku di samping ayahnya yang sedang mengemudi. Ayahnya beberapa kali menggelengkan kepalanya sambil membiarkan anaknya menjalani proses menuju dewasanya yang selama ini terabaikan.

Hendra mengedarkan pandangannya, mencoba mengais harapan dikala penantian keindahan memayungi sukmanya. Keyakinannya pada Inah mengalahkan keraguan yang membayang-bayangi kehidupannya. Datanglah Inah, aku tidak peduli apapun dirimu asal engkau menerimaku sepenuhnya. Aku tidak peduli jandakah dirimu, siapapun dirimu, aku akan menunggumu.

Dan penantian itu akan selalu menghia
si keindahan kehidupan. ***

Test
Read More - Test posting 1
Copyright 2009 Ayo Berbagi. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates