Aku Rindu Saat-Saat itu Dave
Alhamdulillah akhirnya sampai juga
“ Assalamualaikum, Dave”
“ Tak apa Dave, tetaplah berbaring di tempatmu,jangan segan dengan kedatanganku ini. Biar aku saja yang duduk di sini. Aku memang sengaja datang kemari karena aku sangat merindukanmu Dave”
“ Apa, kau juga merindukanku?” terima kasih Dave
Kau tahu Dave, disaat seperti ini aku jadi ingat persahabatan kita. Lucu sekali ya, kita bagaikan tak terpisahkan, dimana ada kamu di situ selalu ada aku.
“ Kenapa wajahmu jadi memerah? Kamu malu ya?”
“ Kamu masih ingat tidak Dave saat kamu memintaku untuk mengajarimu membuat puisi?”
*******
Siang itu . . . “ Assalamualaikum .“ ucapmu ramah
“ Waalaikumsalam , masuk Dave. Tumben sore-sore begini kamu datang kemari, ada apa? “
“ Aku mau minta tolong. Kamu kan jago bikin puisi, tolong ajari aku ya? Aku ingin membuat puisi untuk ibu sebagai kado di hari ulang tahunnya nanti “
“ Ah kamu ini bisa saja. “ jawabku malu-malu
“ Bantuin aku ya? “ pintamu memelas
“ Iya deh, tapi jangan sekarang. Aku lagi banyak PR. Bagaimana kalau besok saja? “
Ya, semenjak sore itu kamu jadi semakin rajin berlatih membuat puisi. Bahkan hampir setiap hari kamu meluangkan waktumu untuk membuat puisi. Aku sangat senang melihatmu bersemangat seperti itu. Kau juga selalu menunjukkan hasil puisimu padaku. Dan suatu hari tanpa sepengetahuanmu, kuikutkan salah satu puisi terbaikmu dalam lomba memperingati hari jadi kota Surabaya. Aku tidak menyangka kalau kau-lah yang menjadi pemenangnya. Awalnya kamu bingung, tapi setelah kujelaskan semuanya, kau juga turut bahagia mendengar berita itu. Kau pantas mendapatkannya Dave.
Keesokan harinya kau mendapat undangan dari wali kota Surabaya untuk menghadiri peringatan hari jadi kota Surabaya. Kau memutuskan untuk menghadiri acara itu dengan mengajak orang tuamu dan aku. Akhirnya hari itu datang juga. Semua orang yang datang dalam acara itu melihatmu dengan bangga, Dave. Bahkan kau mendapat kehormatan untuk duduk di barisan paling depan bersebelahan dengan pak wali kota. Andai kau tahu betapa bangganya orang tuamu saat itu.
Acara demi acara terus berlalu, hingga tiba saatnya pembawa acara mempersilahkanmu untuk naik ke atas turut maju mendekat ke panggung agar bisa mengambil fotomu. pamggung untuk memberi sambutan singkat atas kemenanganmu. Saat kau maju, aku juga “ Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Selamat siang hadirin yang berbahagia. Saya di sini ingin menyampaikan sedikit kata. Terima kasih untuk semua yang telah mendukung saya, terutama kepada orang tua saya dan juga teman saya Bella yang telah banyak membantu saya. Saya senang bisa berdiri di sini. Mungkin seumur hidup saya, baru kali ini saya bisa sedikit membanggakan orang tua saya. Saya memang bukan siapa-siapa, tapi saya selalu berusaha agar saya bisa berarti untuk orang-orang yang saya cintai.....”
Semua orang tersenyum dan bertepuk tangan untukmu, tapi tidak denganku. Dari tadi aku memperhatikanmu dengan was-was. Kamu tidak seperti biasanya Dave, wajahmu pucat, matamu agak sayup, dan sesekali kakimu bergetar. Suara tepuk tangan semakin membahana. Di tengah keriuhan itu, kulihat kakimu semakin bergetar dan akhirnya, brukkk...., kau jatuh tak sadarkan diri. Semua orang berteriak kaget, lalu mereka berhamburan untuk menolongmu. Kau tahu Dave, saat itu hatiku terasa tak karuan. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa sangat takut kehilanganmu, sebuah perasan yang harusnya tak pernah terbesit dalam benakku. Bodoh sekali ya kalau aku merasa takut kehilanganmu, aku tahu itu tak akan terjadi karena kamu adalah anak yang kuat. Kamu tak akan menyerah dalam keadaan apapun. Tak lama mobil ambulan datang untuk membawamu ke rumah sakit.
Setelah beberapa hari aku masih trauma atas kejadian itu sehingga aku tidak langsung datang menjengukmu. Tapi walaupun begitu aku tetap berdoa untuk kesembuhanmu. Tapi hari itu aku merasa sangat rindu padamu,Dave. Akhirnya aku meminta ayahku untuk mengantarkanku ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, tepat di depan ruang rawatmu aku melihat semua keluargamu sedang berkumpul. Tapi wajah mereka senduh. Kulihat ibumu sedang menangis. Ada apa ini, mengapa semua orang bersedih. Aku mulai khawatir kalau ketakutanku selama ini benar-benar terjadi. Jujur aku takut sekali kehilanganmu,Dave.
“ Permisi tante, kenapa tante menangis? Dimana Dave tante? Boleh saya bertemu? “ tanyaku gugup.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di benakku. Tapi ibumu hanya diam, membuatku semakin penasaran.
“ Tante....”
“ Bella, Dave...Dave me.. meninggal..” jawab ibumu dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.
“ Innalillahi wainnalillahirojjiun..” benarkah apa yang barusan kudengar. Ketakutanku benar-benar terjadi. Oh Tuhan badanku terasa begitu lemas. Aku dalam keadaan antara percaya dan tidak percaya. Benarkah aku harus kehilangan Dave. Haruskah aku berpisah dengan sahabat, saudara,bahkan guru yang telah bertahun-tahun mengajarkan aku banyak hal tentang hidup ini.
“ Sebenarnya Dave sakit apa, Tante?” “ Sejak kecil Dave sudah sakit leukemia. Tapi dia anak yang tegar, dia tidak mau orang lain tahu tentang penyakitnya. Mungkin dia takut akan menyusahkan orang lain. Termasuk juga kamu, Bella.”
Teman macam apa aku ini. Harusnya aku tahu dari dulu kalau kamu sakit, Dave. Maaf Dave kalau selama ini aku belum bisa jadi teman yang baik untukmu. 5 tahun kita bersahabat, harusnya itu sudah cukup bagiku untuk lebih mengenalmu. Tapi aku gagal Dave. Semoga kau tak kecewa punya teman sepertiku.
| ******* |
“ Kenapa kamu menangis Dave?”
“ Sudah hapus air matamu. Aku datang ke sini untuk menghiburmu, bukan untuk membuatmu bersedih.”
“ Maaf kalau aku mengingatkanmu dengan kejadian itu. Kejadian yang membuat kau berada di sini. Tapi tenanglah aku akan membuatmu tidak merasa kesepian di sini. Aku akan selalu menyempatkan diri untuk mengunjungimu, Dave.”
Awalnya aku masih berat untuk mengikhlaskan kamu pergi setelah sekian lamanya kita bersama. Hari - hariku akan terasa berbeda tanpamu. Kau harus tahu Dave, aku menyayangimu tapi mungkin Tuhan lebih sayang kamu, sehingga Tuhan ingin cepat – cepat memanggilmu agar kau bisa merasakan kebahagian yang kekal di taman surga bukan di dunia yang carut – marut ini. Jadi kamu tak perlu merasa sedih ataupun menyesal, Dave. Tuhan sudah berikan yang terbaik untukmu. Bagaimana pun keadaanmu sekarang ataupun nanti, aku akan selalu menjadi temanmu,jangan takut karena aku tak akan melupakanmu walau hanya sesaat.
“ Sudah dulu ya, rasanya sudah lama sekali aku di sini.” “ Jangan sedih, aku janji aku akan sering – sering mengunjungimu di sini.”
Matahari perlahan mulai kembali ke peraduannya, cahayanya tampak gelap kemerahan khas suasana senja, suara adzan sayup – sayup berkumandang pertanda sang malam akan datang. Dengan langkah gontai, kutinggalkan pemakaman islam tempat Dave bersemayam.







0 komentar:
Posting Komentar